Mengusung Konsep Tradisional Bugis, Dapur Empang Talumae Contoh Nyata Program Hilirisasi

Minggu, 17 Mei 2026
Mengusung Konsep Tradisional Bugis, Dapur Empang Talumae Contoh Nyata Program Hilirisasi

Mengusung Konsep Tradisional Bugis, Dapur Empang Talumae Contoh Nyata Program Hilirisasi

Sebuah restoran baru yang memadukan nuansa lokal dan konsep modern resmi hadir di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). 

Mengusung konsep tradisional Bugis, kehadiran Dapur Empang Talumae milik Andi Ato ini disebut sebagai contoh nyata dari keberhasilan program hilirisasi sektor perikanan dan kuliner di daerah tersebut.

Apresiasi tersebut disampaikan langsung oleh Bupati Sidrap, H. Syaharuddin Alrif, saat meresmikan restoran yang terletak di Kelurahan Lautang Benteng, Kecamatan Maritengngae, pada Ahad (17/5/2026).

Peresmian ini dihadiri oleh Ketua Komisi II DPRD Sidrap, Andi Sugiarno Bahri; Anggota DPRD Sidrap, H. Abdul Rahman; Plt. Kepala Dinas Pendidikan, Sirajuddin; Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian, Fajrin Salman; serta Sekretaris Badan Kesbangpol. 

Tampak pula Camat Maritengngae, Andi Firman; Lurah Lotang Benteng; Lurah Pangkajenne; serta seluruh tamu undangan.

Dalam sambutannya, Bupati Syaharuddin mengungkapkan rasa bangganya terhadap ide cerdas Andi Ato dan keluarga. 

Restoran ini dinilai sukses menerapkan konsep dari hulu ke hilir yang dalam filsafat masyarakat Sidrap dikenal dengan istilah "Alena to getti i, Alena to kecapi i", atau dalam bahasa Bugis Paggalungna disebut "sangking, sappa’".

"Andi Ato memelihara ikan dengan budi daya modern, lalu hasil ikannya diolah menjadi makanan tradisional khas Sidrap, khususnya ikan nila dan ikan mas," kata Bupati, yang mengaku ini merupakan kunjungan ketiganya ke lokasi tersebut setelah sebelumnya sempat menghadiri kegiatan tudang sipulung.

Menurut Bupati, konsep tersebut sejalan dengan visi dan misi pemerintah daerah melalui program tanam, panen, dan hilirisasi. Sektor hilirisasi terbukti mampu memberikan nilai tambah ekonomi yang berkali-kali lipat bagi masyarakat.

"Tanam artinya menaruh benih ikan, lalu dipanen, kemudian dihilirisasi. Pasti ada nilai lebih dari itu. Kalau sekarang ikan nila seberat 1 kilogram berisi 3 sampai 4 ekor harganya Rp30.000,00 per kilogram. Tetapi dengan diolah, dipanen, lalu disajikan melalui restoran seperti ini, maka nilainya pasti meningkat menjadi Rp70.000,00 plus nasi, sayur, dan sambalnya," jelasnya terperinci.

Agar potensi hilirisasi ini berkembang berkelanjutan dan menjadi ikon promosi wisata kuliner di Sidrap, Bupati menekankan lima kunci utama kepada manajemen: menjaga kualitas, mempertahankan rasa, menjaga harga tetap terjangkau, efisiensi pelayanan agar pelanggan tidak menunggu lebih dari 20 menit, serta melayani dengan penuh "saromase" (keramahan).

"Apalagi jadwal acara kita di Pangkajenne pada bulan Mei, Juni, sampai tahun ini sangat padat. Orang akan datang mencari restoran yang suasananya berbeda dari perkotaan, seperti konsep memancing sendiri lalu langsung makan di tempat," tambahnya.

Bupati juga meminta jajaran Camat, Lurah Lotang Benteng, Lurah Pangkajenne, hingga kelompok tani untuk menjadikan Dapur Empang Talumae sebagai tujuan utama pertemuan resmi maupun keluarga.

Sementara itu, pemilik (owner) Dapur Empang yang diwakili oleh Ketua Komisi II DPRD Sidrap, Andi Sugiarno Bahri, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kehadiran Bupati beserta seluruh undangan. 

Pihak keluarga berharap kehadiran kepala daerah dapat memberikan keberkahan dan dampak positif bagi bisnis kuliner yang menjadi spot baru di Sidrap ini.

"Tentu Pak Andi Ato akan membantu pemerintah juga melalui bisnis ini, salah satunya untuk menciptakan lapangan kerja sehingga masyarakat Sidrap bisa semakin bertumbuh perekonomiannya," ujar Andi Sugiarno.

Acara pembukaan agung (grand opening) restoran ini pun ditandai secara simbolis melalui prosesi pengguntingan pita oleh Bupati Sidrap, yang didampingi langsung oleh pemilik usaha serta para tamu undangan yang hadir.

Pewarta: ABDUL HASAN 
Editor: NURYADIN SUKRI

Chat Admin
Mulai chat dengan admin...