Tikus sering kali hanya dianggap sebagai hama yang merusak makanan dan tanaman. Padahal, hewan pengerat ini juga dapat menjadi perantara berbagai penyakit berbahaya yang mengancam kesehatan manusia.
Untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Profesi Kesehatan (KKN-PK) Angkatan 69 Universitas Hasanuddin menggelar penyuluhan mengenai pencegahan penyakit yang ditularkan tikus di Desa Kalosi Alau, Kecamatan Dua Pitue, Kabupaten Sidenreng Rappang.
Penyuluhan bertajuk "SIAGA TIKUS: Edukasi Pencegahan Penyakit yang Ditularkan Tikus pada Masyarakat Desa" tersebut dilaksanakan pada Selasa (28/7/2026), di Aula Kantor Desa Kalosi Alau.
Kegiatan ini diikuti oleh 50 warga sebagai bagian dari program kerja mahasiswa KKN-PK dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai bahaya penyakit yang ditularkan tikus serta langkah-langkah pencegahannya.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa menyampaikan materi mengenai zoonosis, yaitu penyakit yang dapat menular antara hewan dan manusia.
Peserta juga memperoleh edukasi mengenai berbagai penyakit yang ditularkan tikus, seperti leptospirosis, salmonellosis, dan hymenolepiasis, mulai dari cara penularan, gejala, faktor risiko, hingga upaya pencegahannya.
Selain itu, masyarakat diajak menerapkan langkah-langkah sederhana untuk meminimalkan risiko penularan penyakit, seperti menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, serta menyimpan makanan dalam wadah tertutup.
Langkah lainnya yaitu menggunakan alat pelindung diri saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi urine atau kotoran tikus, serta menangani bangkai tikus dengan benar agar tidak menjadi sumber penularan penyakit.
Penyuluhan berlangsung secara interaktif melalui pre-test, penyampaian materi menggunakan media presentasi, diskusi, sesi tanya jawab, serta post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta.
Antusiasme masyarakat terlihat dari keaktifan mereka dalam menjawab pertanyaan, berdiskusi, dan berbagi pengalaman mengenai keberadaan tikus di lingkungan rumah maupun area persawahan.
"Penyuluhan ini sangat baik untuk diikuti karena menambah pengetahuan masyarakat tentang bahaya penyakit yang ditularkan tikus. Jika menemukan bangkai tikus, jangan dibuang sembarangan karena dapat menimbulkan penyakit bagi manusia maupun hewan di sekitarnya serta mencemari lingkungan," ujar Sekretaris Kecamatan Dua Pitue, Muhlisar.
Sementara itu, Zaskia Aulia Rauf, mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Hewan, Fakultas Kedokteran, Universitas Hasanuddin, mengatakan penyuluhan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat serta melakukan pengendalian tikus dan penanganan bangkainya secara tepat.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN-PK Universitas Hasanuddin berharap masyarakat Desa Kalosi Alau tidak lagi memandang tikus hanya sebagai hama yang merusak, tetapi juga sebagai hewan yang berpotensi menularkan penyakit.
Dengan meningkatnya pemahaman masyarakat, diharapkan kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan langkah-langkah pencegahan dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sehingga risiko penularan penyakit dapat diminimalkan.
Pewarta: TIM
Editor: NURYADIN SUKRI