Sosialisasi Kesehatan Mental, Mahasiswa KKN-PK Unhas Gelar SAPA JIWA di Kantor Desa Lombo

Kamis, 30 Juli 2026
Sosialisasi Kesehatan Mental, Mahasiswa KKN-PK Unhas Gelar SAPA JIWA di Kantor Desa Lombo

Sosialisasi Kesehatan Mental, Mahasiswa KKN-PK Unhas Gelar SAPA JIWA di Kantor Desa Lombo

 Mahasiswa KKN Profesi Kesehatan (KKN-PK) Universitas Hasanuddin melaksanakan program kerja sosialisasi kesehatan mental bertajuk SAPA JIWA (Sosialisasi dan Peduli Kesehatan Mental Masyarakat) di Kantor Desa Lombo, Kecamatan Pitu Riase, Kabupaten Sidenreng Rappang, Selasa (28/7/2026).

Afiva Rifaah, mahasiswa Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, sebagai penanggungjawab sekaligus pemateri utama, di bawah supervisi Ryryn Suryaman Pranata Putra, S.KM., M.Kes., dosen pendamping dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin.

Program ini diusung sebagai langkah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan jiwa, mengenali gejala gangguan mental, serta menghapus stigma negatif terhadap penderita gangguan kesehatan mental di lingkungan pedesaan.

Dalam pemaparannya, Afiva Rifaah menjelaskan konsep dasar sehat jiwa yang ditandai dengan tiga indikator utama, yaitu pikiran yang tenang, perasaan yang stabil, serta hubungan sosial yang harmonis.

Pikiran yang tenang ditunjukkan melalui kemampuan mengenali kelebihan diri dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan nyaman. Sementara perasaan yang stabil berkaitan dengan kemampuan mengelola emosi secara wajar.

“Masyarakat perlu memahami pemicu stres (stressor), seperti beban ekonomi, penurunan kondisi fisik, hingga kehilangan anggota keluarga. Akumulasi beban emosi yang dipendam tanpa penyaluran sehat dapat memicu kelelahan psikologis ekstrem,” jelas Afiva.

Meluruskan Mitos dan Memahami Gejala

Selain memberikan edukasi, sosialisasi ini juga membahas perbedaan kapasitas individu dan batas toleransi mental setiap orang. Afiva menegaskan pentingnya mengenali gejala gangguan kesehatan mental, baik dari fungsi pikiran seperti halusinasi dan waham (keyakinan keliru), maupun dari aspek perasaan dan perilaku, seperti emosi datar, mengabaikan kebersihan diri, hingga menarik diri dari lingkungan sosial.

Mahasiswa KKN-PK Unhas juga meluruskan sejumlah mitos yang masih berkembang di masyarakat pedesaan. Salah satunya anggapan bahwa gangguan jiwa disebabkan oleh kurangnya iman atau kelemahan pribadi. 

Faktanya, kondisi tersebut dapat terjadi akibat kerentanan psikologis karena akumulasi stres berat dan membutuhkan penanganan yang tepat.

Selain itu, anggapan bahwa pengurungan atau pemasungan dapat menenangkan penderita juga diluruskan. Tindakan tersebut justru dapat memperparah trauma dan meningkatkan kecemasan penderita.

Dukungan Sosial dan Pertolongan Pertama Emosional

Sesi berikutnya membahas dampak stigma dan penolakan sosial terhadap penderita gangguan mental, seperti pengucilan serta munculnya rasa malu dalam keluarga yang dapat menghambat akses terhadap bantuan profesional.

Sebagai solusi praktis, Afiva memperkenalkan konsep Pertolongan Pertama Emosional melalui akronim SAPA:
S – Simak Penuh Perhatian  
A – Alur Bicara Tenang  
P – Pahami  
A – Akui Perasaannya

Melalui program SAPA JIWA, mahasiswa KKN-PK Unhas berharap masyarakat Desa Lombo semakin terbuka, empatik, dan saling mendukung dalam menciptakan lingkungan pedesaan yang sehat serta bebas stigma terhadap gangguan kesehatan mental.

Kegiatan ini juga menjadi bentuk dukungan mahasiswa terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya:

SDG 1 (Tanpa Kemiskinan): Mendorong ketahanan keluarga melalui pemeliharaan kesehatan mental agar masyarakat tetap produktif dan mampu menjalankan peran sosial-ekonomi.

SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera): Mendukung peningkatan kesejahteraan fisik dan mental masyarakat serta mengurangi stigma terhadap gangguan kesehatan jiwa.

Pewarta: TIM
Editor: NURYADIN SUKRI

Chat Admin
Mulai chat dengan admin...