UPT Puskesmas Belawae menghadirkan dua inovasi hasil aktualisasi Pelatihan Dasar (Latsar) Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) untuk memperkuat tata kelola administrasi dan pelayanan kesehatan.
Dua inovasi tersebut yakni SIMPEL (Sistem Pencatatan Arsip Elektronik) dan RME PINTAR (Pelatihan Internal Terintegrasi, Adaptif, dan Ringkas).
Keduanya memanfaatkan pendekatan digital dan penguatan kompetensi aparatur untuk menjawab kebutuhan kerja di lingkungan puskesmas.
SIMPEL diinisiasi Anggun Sri Martina Intang, A.Md.Ak. Inovasi ini dirancang untuk menata pencatatan arsip surat masuk dan surat keluar yang sebelumnya masih dilakukan secara manual.
Berbasis Microsoft Excel, SIMPEL membuat pencatatan arsip lebih terstruktur sehingga dokumen dapat ditemukan dengan lebih cepat saat dibutuhkan.
Sistem ini juga membantu mengurangi risiko kehilangan data sekaligus mendukung digitalisasi administrasi.
“Melalui SIMPEL, proses pencatatan arsip menjadi lebih cepat, mudah, dan terorganisir. Selain mempermudah pencarian dokumen, sistem ini juga membantu mengurangi risiko kehilangan data arsip,” ujar Anggun.
Sementara itu, RME PINTAR diinisiasi dr. Mita Ellyana Ashadi untuk meningkatkan pemanfaatan Rekam Medis Elektronik (RME) oleh tenaga kesehatan.
Program tersebut dilakukan melalui pelatihan internal yang terintegrasi, adaptif, dan ringkas. Materi disusun agar mudah dipahami dan dapat diterapkan sesuai kebutuhan pelayanan di puskesmas.
Menurut Mita, optimalisasi RME tidak hanya berkaitan dengan pencatatan data pasien, tetapi juga mendukung pelayanan dan pengambilan keputusan berbasis data.
“Pemanfaatan Rekam Medis Elektronik yang baik akan membantu tenaga kesehatan memberikan pelayanan yang lebih cepat dan akurat. Data yang terdokumentasi dengan baik juga dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan serta perencanaan program kesehatan,” jelasnya.
Kepala UPT Puskesmas Belawae, Haslinda, S.ST, mengapresiasi lahirnya kedua inovasi tersebut. Menurutnya, SIMPEL dan RME PINTAR relevan dengan kebutuhan organisasi serta memberikan manfaat langsung bagi pelaksanaan tugas aparatur.
“SIMPEL sangat membantu dalam tata usaha pengarsipan dan tata kelola administrasi. Sementara RME PINTAR memberikan manfaat besar dalam penerapan Rekam Medis Elektronik, khususnya pada layanan rawat inap yang membutuhkan pencatatan data secara cepat, lengkap, dan akurat,” ungkap Haslinda.
Ia berharap kedua inovasi tersebut tidak berhenti sebagai proyek aktualisasi Latsar, tetapi terus dikembangkan dan menjadi bagian dari budaya kerja di Puskesmas Belawae.
“Inovasi tidak boleh berhenti pada tahap implementasi awal. SIMPEL dan RME PINTAR harus terus dikembangkan agar manfaatnya semakin luas dan mampu mendukung peningkatan mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat,” tambahnya.
Kehadiran SIMPEL dan RME PINTAR menunjukkan bahwa penguatan tata kelola tidak selalu membutuhkan sistem yang kompleks.
Inovasi yang lahir dari kebutuhan kerja sehari-hari dapat menjadi langkah konkret untuk membuat administrasi lebih tertata, tenaga kesehatan lebih adaptif, dan pelayanan kepada masyarakat semakin efektif.
Pewarta: TIM
Editor: NURYADIN SUKRI