Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Profesi Kesehatan Universitas Hasanuddin Angkatan 69, Ariel Apriansyah, baru saja merampungkan program kerja utamanya yang bertajuk Penguatan Literasi Maternal-Fetal Health bagi ibu hamil di Kelurahan Arateng.
Program yang berlangsung sejak 23 Juli hingga 4 Agustus 2026 ini merupakan bentuk intervensi nyata untuk meningkatkan pemahaman ibu hamil mengenai pentingnya suplementasi zat besi (Fe), asam folat, dan DHA, sekaligus melakukan skrining deteksi dini terhadap risiko komplikasi hipertensi dan diabetes gestasional.
Melalui pendekatan edukasi door-to-door yang dipadukan dengan evaluasi pre-test dan post-test, kegiatan ini dirancang secara sistematis berdasarkan analisis data bersama Bidan Kelurahan Arateng dan UPT Puskesmas Amparita guna mendukung kesehatan ibu dan janin secara optimal.
Gagasan program ini bermula dari temuan pada masa observasi awal KKN. Saat berkunjung ke Puskesmas Amparita pada 11 Juli 2026, Ariel bertemu dengan seorang ibu hamil yang membawa suplemen Multiple Micronutrient Supplement (MMS) dari fasilitas kesehatan, namun belum memahami manfaat suplemen tersebut.
Ariel kemudian menyapa, "Tabe, Bu. Boleh saya lihat suplemennya? Kalau boleh tahu, ini untuk apa, Bu?"
Ibu tersebut menjawab, "Bukan suplemen, Nak. Ini obat untuk anakku di kandungan."
Ariel kemudian menjelaskan dengan bahasa yang sederhana, "Oh, ini tablet MMS, Bu. Isinya vitamin dan mineral yang dibutuhkan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan janin. Di dalamnya terdapat asam folat, zat besi, berbagai mineral, dan vitamin lainnya."
Namun, jawaban sang ibu justru menjadi titik balik lahirnya program ini.
"Aih, saya tidak tahu apa itu. Yang penting bagus untuk anakku saja."
Percakapan sederhana tersebut menyadarkan Ariel bahwa ketersediaan suplemen gratis belum tentu diikuti dengan pemahaman yang memadai mengenai fungsi dan manfaatnya.
Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan literasi kesehatan pada ibu hamil sehingga pendekatan edukasi secara langsung dari rumah ke rumah dinilai perlu dilakukan.
Berangkat dari temuan tersebut, Ariel kemudian berkoordinasi dengan Bidan Kelurahan Arateng dan Puskesmas Amparita untuk menyusun materi edukasi yang akurat secara klinis. Setelah memperoleh izin dari Lurah Arateng, berbagai instrumen kegiatan mulai dipersiapkan, mulai dari pre-test, post-test, hingga media edukasi berupa buku saku dan leaflet.
Seluruh peserta dipilih berdasarkan data dan rekomendasi bidan setempat dengan cakupan ibu hamil di seluruh wilayah Kelurahan Arateng, khususnya Lingkungan I Palla'e dan Lingkungan II Lasalama.
Saat pelaksanaan di lapangan, pendekatan yang digunakan tetap mengedepankan aspek klinis sekaligus humanis. Pada kunjungan pertama, setiap peserta terlebih dahulu diberikan lembar persetujuan (informed consent).
Melalui persetujuan tersebut, peserta menyatakan kesediaannya untuk memberikan informasi mengenai kondisi kehamilan secara jujur, menjalani skrining tekanan darah dan gula darah menggunakan tensimeter serta glukometer, mengikuti pre-test dan post-test, menerima edukasi mengenai suplementasi dan deteksi dini komplikasi kehamilan, serta berkomitmen menjadi agen penyebar informasi kesehatan bagi lingkungan sekitarnya.
Setelah seluruh persetujuan diperoleh, Ariel melakukan pemetaan kondisi kesehatan dasar peserta, membagikan media edukasi, serta menyampaikan materi mengenai pentingnya suplementasi dan deteksi dini komplikasi kehamilan.
Pada kunjungan kedua, materi kembali diperdalam melalui metode 15 Point Deep Review untuk memperkuat pemahaman peserta. Kegiatan kemudian diakhiri dengan pelaksanaan post-test dan pembagian suplemen minyak ikan (DHA) secara langsung.
Sentuhan personal melalui kunjungan langsung ini memberikan dampak yang nyata terhadap peningkatan literasi kesehatan para peserta. Banyak ibu hamil yang mengaku baru memahami pentingnya pengetahuan medis selama masa kehamilan, khususnya mengenai risiko komplikasi yang selama ini belum mereka ketahui.
"Walaupun saya seorang guru, Nak, informasi yang diberikan sangat bermanfaat bagi saya. Apalagi tadi dijelaskan tentang diabetes gestasional. Saya kira diabetes itu sama semua, ternyata saat hamil juga bisa terkena diabetes. Nah, itu baru saya tahu setelah dijelaskan tadi," ujar Ibu Haerani.
Selain menambah wawasan, dialog dua arah yang berlangsung secara santai juga berhasil meluruskan berbagai miskonsepsi mengenai nutrisi selama kehamilan yang masih berkembang di masyarakat.
"Tunggu dulu, Dek. DHA pernah saya dengar di iklan susu formula untuk anak-anak, kan untuk otak? Saya kira hanya anak-anak yang mengonsumsinya," kata Ibu Ainul Amalia.
Menanggapi hal tersebut, Ariel menjelaskan bahwa kebutuhan DHA justru sangat penting sejak masa kehamilan.
"Tidak, Bu. Sesuai buku saku yang saya susun dan sudah saya jelaskan di dalamnya, berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa trimester kedua dan ketiga merupakan waktu terbaik bagi ibu hamil untuk memenuhi kebutuhan DHA karena zat tersebut akan langsung mendukung perkembangan janin. Kebutuhan minimalnya sekitar 200 mg per hari. Sumber DHA juga sudah saya jelaskan secara lengkap, seperti ikan kembung, salmon, tuna, dan sarden," terang Ariel.
Pendekatan door-to-door semacam ini terbukti menjadi salah satu instrumen yang efektif dalam menjembatani kesenjangan literasi kesehatan maternal. Temuan di lapangan menunjukkan bahwa distribusi suplemen secara cuma-cuma tidak akan memberikan manfaat yang optimal apabila tidak diiringi dengan pemahaman mengenai fungsi, cara kerja, dan pentingnya konsumsi suplemen tersebut.
Melalui skrining terpadu serta edukasi yang dilakukan secara berkesinambungan, program ini memperlihatkan bahwa penyampaian informasi kesehatan secara langsung di rumah peserta mampu memberikan dampak yang lebih terukur dibandingkan hanya mengandalkan pelayanan di fasilitas kesehatan.
Dengan pendekatan tersebut, ibu hamil tidak lagi sekadar menjadi penerima pasif program kesehatan, melainkan tumbuh sebagai individu yang lebih memahami kondisi kehamilannya, mampu mengambil keputusan yang tepat terkait pemenuhan kebutuhan gizi, serta berperan aktif dalam menjaga kesehatan diri dan janin.
Sebagai penutup dari setiap kunjungan, Ariel selalu menekankan bahwa suplementasi hanyalah pelengkap, sedangkan sumber gizi utama tetap berasal dari makanan bergizi seimbang.
"Suplementasi zat besi, asam folat, dan DHA hanya berfungsi sebagai pelengkap kebutuhan gizi, Bu. Makanan tetap menjadi sumber utama. Karena itu, pola makan bergizi seimbang harus selalu diprioritaskan, seperti yang saya tuliskan dalam buku saku melalui konsep isi piringku, yaitu karbohidrat, lauk berprotein, sayur, dan buah. Contohnya, zat besi dapat diperoleh dari sayuran hijau seperti bayam dan brokoli, asam folat dari daging segar maupun sumber pangan lainnya, sedangkan DHA banyak terdapat pada ikan seperti ikan kembung, salmon, tuna, dan sarden."
Pada akhirnya, sinergi antara Bidan Kelurahan Arateng, UPT Puskesmas Amparita, serta pendampingan akademis yang dilakukan mahasiswa KKN diharapkan mampu berkontribusi dalam menekan risiko berbagai permasalahan kehamilan.
Lebih dari itu, program ini diharapkan dapat menumbuhkan budaya preventif dan meningkatkan literasi kesehatan maternal secara berkelanjutan di tengah masyarakat Kelurahan Arateng.
Pewarta: TIM
Editor: NURYADIN SUKRI