Di tengah maraknya penggunaan telepon pintar, Syafar, pemuda asal Desa Anabannae, Kecamatan Pitu Riawa, Kabupaten Sidenreng Rappang, memilih memanfaatkannya sebagai ruang untuk belajar, berkreasi, dan berprestasi.
Berawal dari kegemarannya mengedit video dan mengolah karya secara digital, Syafar perlahan mengembangkan kemampuannya menjadi sebuah aktivitas kreatif yang lebih serius. Ia tidak berhenti sebagai pengguna teknologi, tetapi mencoba menjadi pencipta karya.
Dari sanalah inovasi itu berkembang.
Syafar mulai memanfaatkan dunia digital untuk mencari informasi kompetisi, mengembangkan ide, mengolah konsep, hingga mengirimkan karya ke berbagai ajang perlombaan. Hasilnya mulai terlihat ketika karyanya mendapat apresiasi di tingkat yang lebih luas.
Dalam Lomba Inovasi Rima dan Imajinasi Karya (LIRIKA 11) yang diselenggarakan Idnulis.id, Syafar berhasil meraih Juara Favorit melalui karya berjudul “Jejak Pengkhianatan”.
Sertifikat penghargaan yang diterimanya mencatat Syafar sebagai peserta dalam lomba cipta puisi tersebut.
Prestasinya tidak berhenti di dunia puisi.
Syafar juga berhasil masuk nominasi Sayembara Logo dan Maskot PORPROV XVII Buleleng, Bali, serta turut ambil bagian dalam Sayembara Logo Kamar Dagang Indonesia (KADIN) ke-58.
Mengubah HP Menjadi “Studio Kreatif”
Yang menarik dari perjalanan Syafar bukan hanya daftar penghargaan yang diraih, tetapi cara ia memandang teknologi.
HP Android dan internet yang berada di genggaman tidak sekadar digunakan untuk berselancar di media sosial. Teknologi dimanfaatkannya sebagai sarana untuk menuangkan gagasan, mengembangkan kreativitas, dan mencari ruang kompetisi.
Inilah bentuk inovasi yang sederhana tetapi relevan dengan kehidupan generasi muda saat ini.
Satu perangkat bisa menjadi alat hiburan, tetapi bisa pula menjadi ruang belajar, studio desain, meja kerja, sekaligus pintu menuju kompetisi nasional.
Syafar memilih pilihan kedua.
Dari Desa Anabannae, Menembus Batas Daerah
Perjalanan Syafar juga mematahkan anggapan bahwa untuk menghasilkan karya yang diperhitungkan, seorang pemuda harus berada di kota besar.
Dari Desa Anabannae, karya dapat dikirim ke berbagai kompetisi. Jarak geografis tidak lagi menjadi penghalang ketika teknologi digunakan secara tepat.
Lebih dari sekadar prestasi pribadi, langkah Syafar membawa pesan penting bagi generasi muda di desa: jangan hanya menjadi konsumen dunia digital, tetapi jadilah kreator yang menghasilkan sesuatu.
Di tengah perhatian masyarakat terhadap penyalahgunaan teknologi, termasuk kasus-kasus penipuan online yang sering disebut “passobis”, kisah Syafar menghadirkan perspektif yang berbeda.
Teknologi yang sama dapat membawa seseorang ke arah yang merugikan atau justru membuka peluang.
Pilihan ada di tangan penggunanya.
Syafar memilih menggunakan teknologi untuk berkarya, berkompetisi, dan membawa nama Desa Anabannae ke ruang yang lebih luas.
Bukan Sekadar Juara, tetapi Inspirasi
Juara Favorit lomba cipta puisi nasional dan nominasi sayembara logo serta maskot PORPROV XVII Buleleng, Bali, menjadi catatan dalam perjalanan Syafar.
Namun, makna terbesarnya justru terletak pada proses: berani mencoba, terus belajar, memanfaatkan teknologi, dan tidak takut membawa karya desa ke panggung yang lebih besar.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dengan peralatan mahal atau fasilitas besar.
Kadang inovasi dimulai dari sebuah HP di tangan, sebuah ide di kepala, dan keberanian untuk mengubahnya menjadi karya.
Dari Desa Anabannae, Syafar menunjukkan: teknologi bukan hanya untuk melihat dunia—tetapi juga untuk membuat dunia melihat karya kita.
Pewarta: TIM
Editor: NURYADIN SUKRI