Menerapkan etika batuk dapat menjadi langkah awal dalam mencegah penularan penyakit, termasuk Tuberkulosis (TB). Hal ini mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Profesi Kesehatan (KKN-PK) Universitas Hasanuddin menggelar program BATARA (Batuk Tertib Anak Ceria), Rabu (22/7/2026).
Kegiatan menyasar murid UPT SD Negeri 6 Arawa, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidenreng Rappang. Tujuannya membangun kebiasaan hidup sehat melalui edukasi dan demonstrasi etika batuk yang benar.
Kegiatan mengusung tema “Edukasi Kesehatan melalui Demonstrasi Etika Batuk sebagai Upaya Meningkatkan Pengetahuan dan Perilaku Pencegahan Penularan Tuberkulosis (TB) pada Siswa Sekolah Dasar” dan diikuti oleh murid kelas V UPT SD Negeri 6 Arawa.
Program BATARA dipandu oleh Kayla Karunia Rahmat selaku penanggung jawab kegiatan. Sebelum penyampaian materi, murid mengikuti pre-test untuk mengetahui tingkat pemahaman awal terkait Tuberkulosis dan etika batuk.
Dalam sesi edukasi, mahasiswa KKN-PK Unhas memperkenalkan Tuberkulosis sebagai penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Murid diberikan pemahaman bahwa TB paling sering menyerang paru-paru dan dapat menular melalui percikan udara (droplet) ketika penderita batuk, bersin, berbicara, atau tertawa tanpa menutup mulut.
Selain memahami penyebab dan cara penularannya, murid juga dikenalkan dengan gejala Tuberkulosis pada anak, seperti batuk yang tidak kunjung sembuh, mudah merasa lelah, nafsu makan menurun, serta demam.
Materi kemudian difokuskan pada pentingnya etika batuk sebagai kebiasaan sederhana untuk mencegah penyebaran penyakit. Murid diajarkan langkah-langkah batuk yang benar, mulai dari menutup mulut dan hidung menggunakan siku bagian dalam atau tisu saat batuk maupun bersin, membuang tisu bekas ke tempat sampah, hingga mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir setelahnya.
Mahasiswa juga memberikan pemahaman mengenai penggunaan masker saat sedang sakit sebagai bentuk perlindungan terhadap diri sendiri maupun orang di sekitar.
Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi etika batuk yang diperagakan langsung oleh pemateri. Murid kemudian diberi kesempatan untuk mempraktikkan kembali langkah-langkah tersebut secara mandiri dengan pendampingan tim pelaksana.
Melalui metode demonstrasi, murid tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga belajar menerapkan perilaku sehat yang dapat dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Antusiasme terlihat selama kegiatan berlangsung. Murid aktif menjawab pertanyaan, mengikuti praktik dengan semangat, serta berani memperagakan kembali etika batuk di hadapan teman-temannya. Suasana edukasi berlangsung interaktif dan menyenangkan sehingga pesan kesehatan dapat diterima dengan baik.
Sebagai bentuk evaluasi, mahasiswa KKN-PK Unhas melaksanakan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan murid setelah mengikuti kegiatan. Berdasarkan hasil pengamatan, murid mampu memahami cara penularan Tuberkulosis, pentingnya menerapkan etika batuk, serta langkah-langkah pencegahan sebagai bagian dari perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Melalui program BATARA, mahasiswa KKN-PK Unhas berharap murid SD Arawa dapat membangun kebiasaan menerapkan etika batuk yang benar serta menjadi contoh dalam menjaga kesehatan di lingkungan sekolah maupun keluarga.
Edukasi kesehatan sejak dini ini diharapkan dapat mendukung upaya pencegahan penularan Tuberkulosis sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat bagi seluruh warga UPT SD Negeri 6 Arawa.
Pewarta: TIM
Editor: NURYADIN SUKRI