Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Hasanuddin melaksanakan program kerja bertajuk "Tubuhku Berharga, Diriku Terjaga: Edukasi Seksual Berbasis Body Mapping pada Siswa SD di Kelurahan Toddang Pulu."
Kegiatan ini diselenggarakan di dua sekolah, yaitu SDN 8 Amparita pada 28 Juli 2026 dan SDN 5 Amparita pada 03 Agustus 2026, dengan sasaran siswa kelas III, IV, V, dan VI. Program kerja ini merupakan inisiatif Sitti Nurfadilah Rahim, mahasiswa Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Hasanuddin.
Program ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa sekolah dasar mengenai batasan tubuh pribadi, serta membentuk sikap dan keterampilan dalam menjaga diri dari risiko kekerasan seksual melalui penerapan metode body mapping.
Kegiatan diawali dengan pelaksanaan pre-test untuk mengetahui tingkat pemahaman awal siswa, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi mengenai bagian tubuh pribadi, sentuhan yang baik dan tidak baik, serta cara melindungi diri apabila menghadapi situasi yang membuat mereka merasa tidak nyaman.
Sebagai media pembelajaran, siswa mengikuti kegiatan body mapping, yaitu menggambar bagian tubuh pada lembar kerja sebagai sarana mengenali area tubuh yang bersifat pribadi dan tidak boleh disentuh oleh orang lain tanpa izin.
Selain itu, penyampaian materi juga disertai stimulasi melalui kegiatan bernyanyi sehingga suasana belajar menjadi lebih menyenangkan dan membantu siswa mengingat materi yang telah diberikan.
"Tubuhku berharga dan harus dijaga. Area pribadi tidak boleh dilihat atau disentuh orang lain tanpa izin. Jika merasa tidak nyaman, katakan 'tidak', segera menjauh, dan ceritakan kepada orang tua, guru, atau orang dewasa yang dipercaya."
Selama kegiatan berlangsung, siswa menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti setiap rangkaian kegiatan. Mereka menyimak materi yang disampaikan, menyelesaikan aktivitas body mapping, serta mengikuti stimulasi melalui kegiatan bernyanyi yang membantu mereka mengingat materi mengenai batasan tubuh pribadi.
Pendekatan pembelajaran yang disesuaikan dengan usia anak membuat suasana belajar menjadi lebih menyenangkan dan kondusif.
Sebagai bagian dari evaluasi kegiatan, seluruh peserta mengerjakan pre-test sebelum penyampaian materi dan post-test setelah seluruh rangkaian edukasi selesai dilaksanakan.
Pelaksanaan kedua instrumen tersebut bertujuan mengukur tingkat pemahaman siswa mengenai materi yang diberikan, khususnya terkait batasan tubuh pribadi, perbedaan sentuhan yang baik dan tidak baik, serta cara melindungi diri dari risiko kekerasan seksual.
Selain itu, di akhir kegiatan, siswa yang aktif selama proses edukasi diberikan hadiah sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi dan semangat mereka dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan siswa tidak hanya memahami pentingnya menjaga tubuh sendiri, tetapi juga memiliki keberanian untuk mengatakan "tidak" terhadap sentuhan yang tidak pantas, menjaga batasan tubuh pribadi, serta segera melaporkan kepada orang tua, guru, atau orang dewasa yang dipercaya apabila mengalami atau menyaksikan tindakan yang mengarah pada kekerasan seksual.
Edukasi sejak usia dini diharapkan menjadi langkah preventif dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi anak-anak serta meningkatkan kesadaran mereka akan hak atas tubuhnya sendiri.
Pewarta: TIM
Editor: NURYADIN SUKRI