Jejak Yayasan Sanggar Seni Pajoge Andino Sidrap: Menanam Dedikasi, Merawat Tradisi, Mengukir Prestasi

Jum'at, 28 Agustus 2026
Jejak Yayasan Sanggar Seni Pajoge Andino Sidrap: Menanam Dedikasi, Merawat Tradisi, Mengukir Prestasi

Jejak Yayasan Sanggar Seni Pajoge Andino Sidrap: Menanam Dedikasi, Merawat Tradisi, Mengukir Prestasi

Yayasan Sanggar Seni Pajoge Andino Sidrap didirikan pada 2013 oleh Miftahul Jannah, S.Sn., M.Pd., dan Henra Setiawan, S.Pd., M.Pd., pasangan suami istri yang berprofesi sebagai seniman dan memiliki kepedulian terhadap pendidikan, pembentukan karakter, serta pelestarian budaya. 

Pada awalnya, mereka membuka kelas pelatihan tari bagi siswa, khususnya jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Pembelajaran di sanggar tidak hanya berfokus pada teknik gerak tari. Para peserta didik juga dibina untuk memiliki kedisiplinan, kemampuan bekerja sama, keberanian, tanggung jawab, serta kecintaan terhadap budaya daerah. 

Dari proses tersebut, sanggar mulai melahirkan generasi muda yang mampu membawa nama Sidrap dan Sulawesi Selatan ke berbagai panggung prestasi.

Pada 2015, peserta didik binaan sanggar berhasil meraih juara tari kreasi dalam ajang FLS2N dan dipercaya mewakili Provinsi Sulawesi Selatan. 

Prestasi ini menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan sanggar sekaligus membuktikan pembinaan seni yang konsisten dapat membuka peluang bagi anak-anak daerah untuk berprestasi di tingkat yang lebih luas.

Perkembangan sanggar berlanjut pada 2016. Sanggar Seni Pajoge Andino mengikuti ajang HTD UNNES di Kota Semarang dan mendapat kesempatan menampilkan karya tari di Istana Negara. 

Pada tahun yang sama, Sanggar Seni Pajoge Andino juga mewakili Kabupaten Sidenreng Rappang dalam Malay Culture Festival di Singapura. 

Keikutsertaan tersebut menjadi pengalaman penting dalam memperkenalkan seni dan budaya Sulawesi Selatan di tingkat internasional.

Pada 2018, kiprah internasional sanggar berlanjut melalui keikutsertaan dalam Rider Festival di Kamboja. 

Pada tahun yang sama, Miftahul Jannah dan Henra Setiawan mendapat kesempatan menjadi bagian dari penari I La Galigo, sebuah karya monumental dalam khazanah budaya Sulawesi Selatan. 

Berbagai pengalaman tersebut memperluas wawasan sanggar dan memperkuat komitmennya untuk menjadikan seni sebagai jembatan budaya antardaerah dan antarbangsa.

Selanjutnya, pada 2019, Sanggar Seni Pajoge Andino berpartisipasi dalam Festival Panji di Surabaya dan Festival Tari Anak di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. 

Sanggar Pajoge juga sering mendapatkan dana hibah dari Kementerian Kebudayaan.

Festival-festival tersebut menjadi ruang bagi para penari muda untuk belajar, berekspresi, berinteraksi dengan komunitas seni lain, serta memahami bahwa kebudayaan daerah memiliki nilai yang dapat diapresiasi di tingkat nasional maupun internasional.

Seiring perkembangan sanggar, kegiatan yang dijalankan tidak hanya berfokus pada pelatihan dan pertunjukan tari. 

Sanggar ini juga mengembangkan usaha penyewaan kostum tari untuk mendukung kebutuhan pementasan sekaligus membuka peluang ekonomi berbasis seni.

Pengembangan tersebut berlanjut pada 2020, ketika Miftahul Jannah membuka butik yang menyediakan baju bodo, gaun, dan jas tutup. 

Butik ini menjadi bagian dari upaya mengembangkan busana tradisional Sulawesi Selatan agar tetap digunakan dan hadir dalam berbagai kegiatan masyarakat. 

Baju bodo dipandang bukan hanya sebagai pakaian tradisional, tetapi juga sebagai identitas budaya yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan zaman tanpa kehilangan nilai filosofisnya.

Selain menjadi ruang pendidikan dan pelestarian budaya, Yayasan Sanggar Seni Pajoge Andino berkomitmen membuka peluang kerja bagi generasi muda melalui berbagai layanan dan program pengembangan keterampilan, yaitu:

* Kelas tari untuk jenjang TK, SD, SMP, SMA, hingga mahasiswa.
* Kelas olah tubuh untuk meningkatkan kebugaran, kelenturan, kekuatan, dan kesiapan fisik.
* Kelas modeling untuk mengembangkan kepercayaan diri, kemampuan berjalan di panggung, dan keterampilan tampil di depan umum.
* Wedding Organizer untuk mendukung penyelenggaraan acara pernikahan secara profesional.
* Event Organizer untuk membantu perencanaan dan pelaksanaan berbagai kegiatan.
* Jasa penyewaan baju dan kostum, termasuk busana tari serta pakaian adat dan tradisional.

Melalui berbagai bidang tersebut, Sanggar Pajoge menyediakan ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan potensi, memperoleh pengalaman kerja, membangun kemandirian, serta berkontribusi dalam industri kreatif dan kebudayaan.

Dalam menjalankan perjuangan di bidang seni, Miftahul Jannah mendapat dukungan dari keluarga. Selain menjabat sebagai Direktur Yayasan Sanggar Seni Pajoge Andino, beliau juga berprofesi sebagai dosen seni yang berstatus ASN pada Program Studi PGSD Universitas Negeri Makassar (UNM). 

Sementara itu, suaminya merupakan guru seni yang berstatus ASN di UPTD SMP Negeri 1 Tellu Limpoe, Kabupaten Sidrap. Latar belakang dan kecintaan keduanya terhadap pendidikan dan seni menjadi salah satu kekuatan dalam menjaga keberlanjutan perjuangan kebudayaan.

Selama lebih dari satu dekade, perjalanan Yayasan Sanggar Seni Pajoge Andino tidak hanya diukur dari jumlah panggung, festival, atau prestasi yang telah diraih. 

Setiap latihan, pertunjukan, kompetisi, dan perjalanan menjadi bagian dari proses menanamkan kecintaan terhadap budaya, membangun karakter, serta memperkenalkan kekayaan budaya Sidenreng Rappang dan Sulawesi Selatan.

Seluruh kegiatan tersebut bermuara pada cita-cita untuk memajukan kebudayaan di Bumi Nene Mallomo, Kabupaten Sidenreng Rappang. 

Sanggar Pajoge meyakini Sidrap memiliki kekayaan tradisi, nilai, dan kreativitas yang layak diperkenalkan secara lebih luas.

Perjalanan itu masih terus berlanjut. Insya Allah, pada 4–6 September 2026, Yayasan Sanggar Seni Pajoge Andino akan kembali membawa nama Kabupaten Sidenreng Rappang melalui keikutsertaan dalam Festival Payung Indonesia XIII di Solo, Jawa Tengah. 

Keikutsertaan ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan budaya Sidrap melalui seni pertunjukan dan karya-karya yang berakar pada tradisi.

Lebih dari sekadar sanggar, Yayasan Sanggar Seni Pajoge Andino Sidrap berusaha menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda, ruang berkarya bagi seniman, ruang belajar bagi masyarakat, ruang penciptaan lapangan kerja, serta ruang bertemunya tradisi dengan kreativitas masa kini.

Dari dedikasi seorang seniman tari pada 2013, tumbuh perjalanan yang telah melewati berbagai panggung nasional dan internasional. 

Perjalanan tersebut menunjukkan kebudayaan akan tetap hidup apabila ada orang-orang yang mau merawat, mengajarkan, mengembangkan, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya.

Yayasan Sanggar Seni Pajoge Andino bukan hanya tentang tari. Pajoge Andino adalah tentang perjalanan, pengabdian, pendidikan, prestasi, pembukaan peluang kerja, dan kecintaan untuk terus menjaga denyut kebudayaan di Bumi Nene Mallomo.

Dari Sidrap untuk Indonesia, dari tradisi menuju masa depan.

Pewarta: TIM 
Editor: NURYADIN SUKRI

Chat Admin
Mulai chat dengan admin...