Di sebuah desa sederhana bernama Desa Damai, Kecamatan Watang Sidenreng, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), tinggallah seorang pemuda bernama Wawan.
Ia bukan berasal dari keluarga berada dan tidak memiliki bengkel besar dengan peralatan lengkap. Namun, Wawan memiliki satu hal yang tidak ternilai: rasa ingin tahu dan keberanian untuk mencoba.
Awalnya, Wawan hanya melihat para petani di sekitarnya yang membutuhkan alat semprot yang kuat, praktis, dan terjangkau. Harga alat yang mahal membuatnya berpikir, “Kalau saya belum mampu membeli, kenapa tidak saya coba membuatnya sendiri?”
Dengan memanfaatkan mesin sederhana dan peralatan seadanya, dibantu anak lulusan perbengkelan, Wawan mulai mencoba merakit mesin semprot di garasi kecil rumahnya. Percobaan pertama tidak langsung berhasil. Ada bagian yang rusak, ada mesin yang tidak bekerja sesuai harapan, bahkan beberapa kali ia harus membongkar dan merakitnya kembali.
Namun Wawan tidak menyerah. Setiap kegagalan justru menjadi pelajaran. Ia terus belajar, mencari cara baru, memperbaiki desain, dan mendengarkan kebutuhan para petani. Perlahan, hasil rakitannya menjadi semakin baik—lebih kuat, lebih praktis, dan lebih sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Dari garasi kecil, lahirlah sebuah karya yang mulai dipercaya. Pesanan pun berdatangan. Apa yang awalnya hanya sebuah eksperimen sederhana berubah menjadi peluang usaha.
Tetapi bagi Wawan, keberhasilan bukan hanya tentang berapa banyak mesin yang terjual. Ia ingin agar keberhasilannya juga membawa manfaat bagi orang lain.
Wawan kemudian mengajak pemuda-pemuda di desanya untuk belajar dan bekerja bersama. Ia berbagi ilmu, membuka kesempatan kerja, dan membangun tim. Baginya, kesuksesan tidak akan terasa lengkap jika hanya dinikmati seorang diri.
Hari demi hari, karya Wawan mulai dikenal lebih luas. Dari sebuah desa kecil, produknya perlahan bergerak menuju berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Pulau Sulawesi, Sumatera, Kalimantan, Jawa, hingga Papua. Wawan memasarkan alat semprotnya secara online melalui TikTok dengan nama akun @Mahatani-Kios. Ia membuktikan bahwa keterbatasan tempat bukanlah batas bagi sebuah mimpi.
Wawan mengajarkan satu hal penting: jangan takut memulai dari kecil.
Sebuah ide yang dimulai dari rasa penasaran, sebuah percobaan sederhana, dan keberanian menghadapi kegagalan bisa tumbuh menjadi sesuatu yang besar ketika dilakukan dengan kerja keras, ketekunan, keberanian, dan kemauan untuk terus belajar.
Dari Desa Damai, Wawan melangkah untuk Nusantara. Bukan karena ia memulai dengan sempurna, tetapi karena ia berani memulai.
“Jangan takut memulai dari kecil, karena dari coba-coba hari ini, bisa jadi sejarah besar esok hari,” pesan Wawan.
Pewarta: TIM
Editor: NURYADIN SUKRI