Bukan hanya soal pembangunan dan capaian ekonomi, Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, juga membawa identitas daerah ke panggung nasional melalui batik bertuliskan Saromase yang dikenakannya dalam dialog di Total Politik, Kamis (15/10/2026).
Batik yang dikenakannya menarik perhatian host Total Politik, Budi Adiputro dan Arie Putra. Sejak awal acara, keduanya menanyakan pakaian khas yang dikenakan Syaharuddin.
Dengan gaya santai, Syaharuddin menjelaskan bahwa batik Saromase bukan sekadar pakaian, tetapi juga media untuk memperkenalkan potensi dan identitas daerah. Saromase sendiri merupakan bahasa Bugis yang mengandung makna kerja ikhlas.
“Kalau mau mem-branding daerah supaya makin dikenal, ya harus pakai bajunya!” ujar Syaharuddin dalam forum yang mengangkat topik Indonesia Future Leader #2: Refleksi Dua Tahun Pemerintahan Prabowo.
Ia kemudian menjelaskan sejumlah simbol yang tertera pada batik tersebut. Logo daerah menunjukkan identitas Kabupaten Sidrap, sementara gambar padi merepresentasikan posisi Sidrap sebagai lumbung beras.
Ada pula gambar telur yang menggambarkan Sidrap sebagai lumbung telur. Simbol Al-Qur'an merepresentasikan Sidrap sebagai lumbung penghafal Al-Qur'an, sedangkan gambar kincir angin raksasa mencerminkan potensi daerah dalam pengembangan energi terbarukan.
Beragam simbol itu menggambarkan potensi Sidrap yang tidak hanya bertumpu pada sektor pertanian dan peternakan, tetapi juga pendidikan keagamaan serta energi bersih.
Syaharuddin menjelaskan, potensi dan arah pembangunan tersebut sejalan dengan program prioritas pemerintah pusat, mulai dari swasembada pangan hingga pengembangan energi terbarukan.
Melalui batik Saromase, ia membawa pesan bahwa promosi daerah bisa dilakukan dengan cara sederhana, termasuk melalui pakaian yang dikenakan saat menghadiri forum nasional.
Di tengah dialog yang membahas kepemimpinan dan pembangunan Indonesia, batik Saromase menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan Sidrap beserta potensi unggulannya kepada audiens yang lebih luas.
Pewarta: TIM
Editor: NURYADIN SUKRI