Selamat datang di website resmi pemerintah Kabupaten Sidrap

BERITA

Debit Air Meninggi, Petani Beraktivitas

SIDRAP -- Kondisi pertanian yang sempat terganggu akibat minimnya ketersediaan air, baik dari saluran irigasi maupun curah hujan, perlahan mulai bisa teratasi.
Untuk musim tanam tahun ini, petani akhirnya bisa bernafas lega setelah sejumlah saluran irigasi yang menjadi penyuplai air ke ribuan hektar areal persawahan mulai bisa menampung air.
Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan Dinas PSDA Sidrap, Muh Yusuf Thamrin, mengatakan, kondisi debit air di 4 saluran irigasi saat ini, sudah melegakan. Artinya, kata dia, sistem buka tutup pintu air irigasi yang diterapkan selama ini, sudah bisa memenuhi kebutuhan air di sejumlah wilayah pertanian teknis.
Misalnya, di daerah Saddang, hingga per 26 November lalu, saluran irigasi B14 Pakenya yang tadinya menggunakan sistem buka tutup 3/4 perminggu, kini sudah bisa mencukupi untuk 15 ribu hektar lahan.
Di daerah Bulo Timoreng, ketersediaan air diklaim sudah mencapai 60 persen. Hanya daerah beberapa daerah di hilir yang belum dapat dilayani. "Tapi yang jelas, dari debit awal yang hanya 6 kubik/detik, kini sudah mencapai 12 kubik/detik. Artinya, sudah ada 1.500 hektar yang bisa mendapat suplai air.
Begitupun di daerah Bila. Tingginya curah hujan sangat membantu sekitar 2.500 hektar areal persawahan di wilayah irigasi Bila. Hanya daerah Bulu Cenrana yang relatif masih memiliki debit di bawah normal. Sehingga, kata Yusuf Thamrin, kemungkinan besar, sistem penggiliran golongan masih akan dilakukan di wilayah Bulu Cenrana.
Ketersediaan air di Sidrap ini, akan dibantu debit air dari Bendungan Benteng yang saat ini, daya tampungnya sudah mencapai 100 kubik/detik, dan siap mengairi 6.000 hektar lahan.
4 daerah irigasi besar di Sidrap, masing-masing irigasi Saddang, Bila, Bulu Cenrana dan Bulo Timoreng, akan didukung 94 irigasi kecil yang tersebar di 11 kecamatan. 94 irigasi kecil ini, siap menyuplai air ke sekitar 11.300 hektar areal persawahan.
Ditambah 3 saluran irigasi yang selama ini menjadi kewenangan Provinsi, masing-masing saluran irigasi semi teknis Alle Karajae dan Bilokka dan bendungan alami Torere.
Pantauan AJPNews, meningginya debit air dan curah hujan mulai diringi aktivitas petani. Mereka mulai turun sawah, setelah sejumlah areal pertanian mulai digenangi air. Padahal, hampir satu musim terakhir, petani di sejumlah wilayah 'nganggur' karena tidak mendapat pasokan air yang cukup.
Sebelumnya, PSDA mengambil langkah dengan menggilir penggunaan air kepada petani, terutama di daerah hilir. Kebijakan tersebut terpaksa ditempuh lantaran air irigasi yang melalui bendungan BR 25 Pinrang masih kurang, ditambah adanya sejumlah titik saluran irigasi di Sidrap yang memang sedang diperbaiki. 
Suplai air harus digilir ke UPTD Sidenreng I meliputi luasan areal mencapai 3.400 hektar, UPTD Sidenreng II yang mencakup luas areal 2.296 hektar dan UPTD Belawa dengan potensi areal mencapai 4.464 hektar. (humas)

Bagikan: