Ada tanah yang harus digarap, ada kayu yang harus diolah. Bagi Jhon, keduanya menjadi bagian dari perjalanan untuk terus bekerja.
Di Desa Lainungan, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidenreng Rappang, pemuda ini menjalani kesehariannya dengan bertani. Ia turun ke ladang, merawat tanaman jagung, dan bekerja di bawah terik matahari.
Jhon tumbuh di lingkungan pedesaan yang dekat dengan pertanian. Sejak kecil, ia melihat bagaimana petani bekerja dari pagi hingga sore. Dari sana, ia mengenal tanah sekaligus memahami bahwa hasil tidak datang tanpa kesabaran dan kerja keras.
Kini, ia memilih menjadi petani. Namun, Jhon tidak hanya mengandalkan pekerjaan di ladang. Ia memahami bahwa pekerjaan pertanian memiliki musim dan tidak selalu tersedia setiap waktu.
Saat pekerjaan di ladang berkurang, ia beralih menjadi tukang kayu. Keterampilan mengolah kayu menjadi cara lain bagi Jhon untuk mendapatkan penghasilan. Ketika ada petani yang membutuhkan tenaga, ia kembali turun ke ladang sebagai buruh tani.
Begitulah ia menjalani hari. Bertani ketika ada pekerjaan di lahan. Mengolah kayu ketika ada kesempatan. Membantu petani lain ketika tenaganya dibutuhkan.
Tidak ada pekerjaan yang dianggap terlalu rendah. Tidak ada gengsi yang menghalangi langkahnya. Bagi Jhon, selama pekerjaan itu halal dan dilakukan dengan sungguh-sungguh, ia layak dijalani.
Dari tanah, ia belajar tentang kesabaran. Dari kayu, ia belajar tentang keterampilan. Dari keringat, ia belajar tentang arti perjuangan.
Cerita Jhon mungkin sederhana. Seorang pemuda desa yang bertani, menjadi tukang kayu, lalu kembali membantu pekerjaan di ladang. Tetapi dari pekerjaan-pekerjaan sederhana itu, ia sedang membangun sesuatu yang lebih besar: masa depannya.
Jhon memilih untuk terus bergerak ketika pekerjaan datang dan mencari peluang ketika pekerjaan sedang berkurang. Tanah dan kayu menjadi bagian dari ceritanya. Sementara semangat untuk terus bekerja menjadi bekal yang membawanya melangkah.
Pewarta: TIM
Editor: NURYADIN SUKRI